Arsip

Archive for the ‘akidah’ Category

Pengertian Bid’ah

September 24, 2010 1 komentar

Pengertian Bid’ah :

bid’ah yaitu mengada-adakan sesuatu hal yang baru di dalam agama, yang tidak contohnya, baik dalam Al Qur’an ataupun As Sunnah, serta tidak ada keterangan dari Rosul sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Definisi Bid’ah terbagi dua :

  • Bid’ah Haqiqiyah : ialah bid’ah yang asal mulanya tidak ada contoh di dalam islam ataudari Rosul secara mutlak, conthnya : perayaan isra’ mi’raj juga maulid nabi
  • Bid’ah idhofiyyah : ialah bid’ah yang asal mulanya ada dalam islam akan tetapi tata caraya tidak ada contohnya dalam islam ataupun dari Rosul, contohnya : tahlilan, takbiran yang terjadi pada jaman sekarang ini, yasinan.

Kaidah : “sesungguhnya sesuatu perbuatan itu baik niscaya Rosul dan para sahabatnya lebih dahulu mengerjakannya”

Alasan tidak boleh bid’ah:

  • tidak ada dalil /petunjuk dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam
  • bahwa agama islam sudah sempurna, buka QS Al Maidah : 3
  • dikarenakan orang yang berbuat bid’ah seakan-akan dia menganggap Nabi menyembunyikan ajaran islam dan agama islam belum sempurna.

Dalil-dalil tentang bid’ah :

firman Alloh Ta’ala:

  • “maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan  kesesatan” ( yunus 10:32)
  • “tiada kami alpakan sesuatupun di dalam Al kitab” (QS 6:38)
  • ” Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rosul dan taatilah pemimpin (penguasa) diantara kalian, apabila kalian berselisih pendapat tentang segala sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rosul (As Sunnah)
    (Al Qur’an Surat An Nisa ayat 59)

Dalil yang lain :

Wasiat Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam.. “Al-‘irbadh bin syariah rodiyallahu’anhu berkata “suatu hari setelah sholat subuh, rosulullah shollalahu ‘alaihi wassalam menasehati dengan satu nasehat yang begitu mendalam, hingga air mata kamipun mngalir dan hati-hati kamipun bergetar, kemudian berkatalah seseorang: “sungguh ini adalah nasehat orang yang mau berpisah, lalu apa yang akan engkau pesankan kepada kami wahai rosulullah shollalahu ‘alaihi wassalam? ” beliaupun bersabda “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala, untuk mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyi (ethopia), karena sesungguhnya siapa diantara kalian yang nantinya masih hidup, dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafa rasyidin (para sahabat) yang terbimbing dan mendapat petunjuk, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian (pegang erat-erat jangan sampai lepas), dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini (bid’ah), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.”
(HR. At – Tirmidzi no.2816 dan yang selainnya)

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shollalahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.).” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Iklan

Iman Dan Tauhid Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah,Iman Bisa Bertambah Bisa Berkurang

Juli 28, 2010 Tinggalkan komentar

menurut ahlus sunnah wal jama’ah ialah ikrar dalam hati,di ucapkan dengan lisan,lalu pengamalan sengan perbuatan..

oleh karena itu iman dapat bertambah dan berkurang,
nabi Ibrahim pernah berkata seperti yang di cantumkan dalam al qur’an:
“Ya Rabbb-ku,perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati” Alloh berfirman:”Apakah engkau belum percaya” Ibrahim menjawab:”saya telah percaya,akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”.(AL Baqarah : 260)
Baca selanjutnya…

Kategori:akidah

Iman Dan Tauhid

Juli 27, 2010 Tinggalkan komentar

Apakah Iman itu Tauhid?

“tauhid adalah mengesakan Allah ‘azza wa jalla dengan apa yang khusus untuk-NYa dan wajib bagi-Nya.

sedangkan iman adalah at tashdiq (membenarkan) yang mencakup pengertian menerima dan pasrah.Di antara keduanya terdapat pengertian yang umum dan khusus.setiap orang yang bertauhid (muwahhid) tentu mukmin dan setiap mukmin tentu muwahhid dalam pengertiannya secara umum.akan tetapi terkadang pengertian tauhid itu lebih khusus ketimbang iman dan juga sebaliknya,pengertian iman lebih khusus dari pada pengertian tauhid.wallahu A’lam.(Syaikh Utsaimin).

Kategori:akidah